Sulawesi Tengah, sebuah daerah di Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati, kini menjadi perhatian dunia internasional berkat tanaman ajaib: Daun Kelor Merah Kathulistiwa (Moringa). Berbeda dari kelor biasa, varietas merah ini memiliki khasiat yang lebih tinggi dan menjadi incaran pasar global karena potensinya yang luar biasa dalam dunia kesehatan, kecantikan, dan nutrisi.
Keistimewaan Daun Kelor Merah
Daun kelor merah, dengan kandungan antioksidan, vitamin, dan mineral yang lebih tinggi dibandingkan varietas hijau, telah diuji secara ilmiah dan terbukti memiliki manfaat kesehatan yang melimpah. Beberapa keistimewaannya meliputi:
Antioksidan Super Kandungan flavonoid dan polifenol pada daun kelor merah membantu melawan radikal bebas, memperlambat penuaan dini, dan mencegah berbagai penyakit degeneratif seperti kanker.
Sumber Nutrisi Alami Mengandung protein, vitamin A, C, dan E, serta zat besi yang tinggi, daun ini menjadi solusi alami untuk mengatasi malnutrisi.
Meningkatkan Imun Tubuh Kombinasi nutrisi lengkap pada kelor merah dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan melindungi dari berbagai infeksi.
Mendukung Kesehatan Jantung dan Gula Darah Senyawa aktif dalam daun ini membantu mengontrol kadar gula darah dan menjaga kesehatan jantung.
Produk Turunan Berbasis Kelor Merah
Para pelaku usaha lokal di Sulawesi Tengah memanfaatkan potensi besar daun kelor merah dengan mengolahnya menjadi berbagai produk inovatif. Berikut adalah beberapa produk turunan yang telah mendapatkan tempat di pasar internasional:
Teh Herbal Kelor Merah Minuman ini populer di kalangan pecinta kesehatan karena manfaatnya yang dapat mendetoksifikasi tubuh dan memberi energi.
Minyak Esensial Kelor Diolah dari biji kelor merah, minyak esensial ini memiliki manfaat untuk perawatan kulit, memperbaiki tekstur rambut, dan dapat digunakan dalam aromaterapi.
Suplemen Kapsul Kelor Berupa ekstrak daun kelor merah yang dikemas dalam kapsul, suplemen ini praktis untuk mereka yang ingin menikmati manfaat kelor setiap hari.
Produk Kosmetik Organik Kandungan antioksidan dan vitamin E menjadikan kelor merah bahan utama dalam pembuatan sabun, krim anti-penuaan, dan masker wajah alami.
Tepung Daun Kelor Daun kelor merah dikeringkan dan diolah menjadi tepung yang kaya nutrisi, dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk berbagai jenis makanan seperti roti, kue, pasta, dan minuman sehat.
Campuran Minuman Sehat Tepung daun kelor merah juga dapat digunakan sebagai campuran dalam smoothies, teh, kopi, jus, atau minuman kesehatan lainnya, memberikan cita rasa alami dan tambahan nutrisi yang kaya dan sehat.
Pupuk dan Pakan Ternak Sisa daun kelor merah juga dimanfaatkan sebagai pupuk organik dan pakan ternak berkualitas tinggi, mendukung pertanian dan peternakan berkelanjutan.
Dari Sulawesi Tengah untuk Dunia
Dengan permintaan yang terus meningkat, kelor merah Sulawesi Tengah kini menjadi primadona di pasar global. Negara-negara seperti Jepang, Amerika Serikat, China, Dubai, dan Uni Eropa telah mengimpor produk berbasis kelor merah dalam jumlah besar dan kontinyu. Potensi ekspor ini tidak hanya meningkatkan perekonomian lokal tetapi juga mengenalkan keanekaragaman hayati Indonesia kepada dunia.
Dukungan Pemerintah dan Masyarakat
Keberhasilan kelor merah tidak lepas dari sinergi antara pemerintah daerah, petani lokal, dan pelaku usaha, dan organisasi/lembaga kemasyarakatan. Program pelatihan, pendampingan teknologi, serta dukungan finansial menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas produksi dan pemasaran.
Menatap Masa Depan
Daun kelor merah Kathulistiwa bukan hanya simbol kekayaan alam Sulawesi Tengah, tetapi juga bukti bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam memimpin pasar global di sektor herbal dan kesehatan. Dengan inovasi berkelanjutan dan strategi pemasaran yang tepat, daun ajaib ini diproyeksikan akan terus menjadi bintang di dunia internasional.
Untuk Info atau Pemesanan
Ingin kerja sama atau pemesanan komoditi atau produk dari Daun Kelor Merah ini? Silahkan hubungi kami di : ✉️ Email: umkm@binabangunbangsa.com 📱 WhatsApp:089616305757
Jakarta, BINA BANGUN BANGSA – Pemerintah melalui Menteri Koperasi dan UKM RI, Teten Masduki menegaskan bahwa belanja pemerintah wajib untuk produk dalam negeri dengan pengecualian jika harus impor, dengan ketentuan bahwa Kementerian/Lembaga yang mengusulkan impor harus menyampaikan kebijakan, program, dan langkah pengurangan impor tersebut hingga 2023.
Ada sekitar 400 triliun potensi pembelanjaan atau pembelian produk dalam negeri dan UMKM melalui e-catalog dan toko daring dalam tahun anggaran 2022 ini.
Maka apabila 40-50% belanja Pemerintah Pusat dan Daerah fokus untuk produk dalam negeri dan UMKM maka akan menyumbang peningkatan ekonomi nasional sekitar 1,5%.
“Semoga dengan diprioritaskannya belanja dalam negeri dan UMKM, bisa membuka lebih banyak lapangan pekerjaan dan peningkatan ekonomi pada masyarakat”, harapannya. (Kemenkop UKM RI)
Jakarta, BINA BANGUN BANGSA – Sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pandemi covid-19. Wabah ini membuat supply dan demand serta rantai pasok terganggu sehingga roda perekonomian di tataran UMKM tersendat. Bahkan menurut OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) setelah September 2020, akan ada separuh UMKM yang ada yang terpaksa harus gulung tikar.
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, menjelaskan UMKM selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi nasional. Setidaknya terdapat lebih dari 64 juta unit UMKM yang berkontribusi 97 persen terhadap total tenaga kerja dan 60 persen PDB nasional. Jumlah ini menunjukan peran UMKM yang sangat besar bagi perekonomian nasional. Oleh sebab itu jika separuh UMKM gulung tikar maka dikhawatirkan akan berdampak besar bagi perekonomian nasional.
“Berdasarkan data APEC tahun 2018 jumlah UMKM mencapai 97 persen dari total keseluruhan usaha dan berkontribusi 50 persen terhadap tenaga kerja. UMKM juga berkontribusi signifikan GDP mencapai 20 persen – 50 persen,” kata Teten saat menjadi keynote speaker dalam webinar dengan tema Menyiapkan Produk – Produk Indonesia Mendunia yang diselenggarakan oleh PT Jababeka Tbk, Kamis (8/10/2020).
Teten menambahkan meski penuh dengan tantangan, sektor UMKM masih memiliki harapan dan peluang untuk meningkatkan skala bisnisnya. Peluang untuk meningkatkan ekspor masih terbuka lebar apabila pelaku UMKM mau melakukan inovasi produk dan mendesainnya dengan sentuhan teknologi.
Menurutnya, ada tiga sektor yang memiliki peluang besar bagi UMKM untuk dapat meningkatkan ekspornya di tengah pandemi seperti saat ini yaitu produk makanan dan minuman, fashion serta furniture dan kerajinan.
“Memang kontribusi ekspor UMKM hanya mencapai 14 persen sementara usaha besar yang jumlahnya hanya 0,01 persen dapat berkontribusi hingga 86 persen. Angka ini masih jauh dari kontribusi UKM di negara – negara APEC yang berkisar 35 persen,” sambungnya.
Untuk memastikan agar UMKM tetap bertahan memang butuh dukungan bersama lintas sektoral. Pekerjaan bersama ini diakuinya tidak mudah terlebih di saat permintaan dunia mengalami slow down akibat sama-sama terkena wabah Covid-19.
Sebagai contoh bentuk kegiatan atau dukungan kepada UMKM, KemenkopUKM mencetuskan beberapa program seperti Gerakan Belanja di Warung Tetangga. Selain itu dukungan program produksi alat pelindung diri oleh UMKM.
“Kita juga ada program pasar digital UMKM, melalui program ini potensi belanja yang bisa dimanfaatkan UMKM mencapai Rp35 triliun. Lalu ada juga gerakan nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI) dan kita akfif mendorong sektor UMKM go digital,” ulasnya.
Jakarta, 9 Oktober 2020
Humas dan Advokasi Hukum Kementerian Koperasi dan UKM
Jakarta, BINA BANGUN BANGSA – Pemerintah menyiapkan 5 skema untuk perlindungan dan pemulihan ekonomi bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sejumlah skema yang juga termasuk program khusus bagi pelaku usaha ultramikro tersebut disiapkan dengan harapan agar mereka dapat bertahan di tengah pandemi Covid-19.
“Ada lima skema besar dalam program perlindungan dan pemulihan ekonomi, utamanya di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah, termasuk program khusus bagi usaha ultramikro dan usaha mikro yang selama ini tidak bersentuhan dan tidak terjangkau oleh lembaga keuangan maupun perbankan,” ujar Presiden Joko Widodo saat memimpin rapat terbatas melalui telekonferensi dari Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu, 29 April 2020.
Presiden mengatakan bahwa skema pertama diperuntukkan bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang masuk kategori miskin dan rentan terdampak Covid-19. Para pelaku usaha dalam skema tersebut diupayakan agar masuk sebagai penerima bantuan sosial dari pemerintah.
“Kita harus memastikan bahwa mereka ini masuk sebagai bagian dari penerima bansos (bantuan sosial) baik itu PKH (Program Keluarga Harapan), paket sembako, bansos tunai, BLT (bantuan langsung tunai) desa, maupun pembebasan pengurangan tarif listrik dan Kartu Prakerja,” ucapnya.
Skema berikutnya, yakni skema kedua, berbicara mengenai insentif perpajakan yang berlaku bagi para pelaku UMKM dengan omzet di bawah Rp4,8 miliar per tahun. Terhadap mereka, pemerintah telah menurunkan tarif PPh final selama enam bulan.
“Di sini pemerintah telah menurunkan tarif PPh final untuk UMKM dari 0,5 menjadi 0 persen selama periode enam bulan dimulai dari April sampai September 2020,” kata Presiden.
Sementara itu, relaksasi dan restrukturisasi kredit UMKM menjadi bagian dari skema ketiga yang disiapkan oleh pemerintah. Skema ini meliputi penundaan angsuran dan subsidi bunga bagi para penerima KUR (Kredit Usaha Rakyat), UMi (Kredit Ultramikro), PNM Mekaar (Permodalan Nasional Madani Membina Keluarga Sejahtera), LPDB (lembaga pengelola dana bergulir), hingga penerima bantuan permodalan dari beberapa kementerian.
“Saya juga minta agar program penundaan angsuran dan subsidi bunga diperluas untuk usaha mikro penerima bantuan usaha dari pemerintah daerah,” imbuhnya.
Selain itu, pemerintah juga akan memberlakukan perluasan pembiayaan bagi UMKM berupa stimulus bantuan modal kerja sebagai bagian dari skema keempat yang telah disiapkan. Dalam skema ini, pemerintah menyiapkan bantuan modal kerja darurat yang dirancang khusus bagi pelaku UMKM yang merasakan dampak Covid-19.
Hingga saat ini, sudah terdapat 41 juta pelaku UMKM yang terhubung dengan lembaga pembiayaan maupun perbankan. Namun, masih terdapat 23 juta pelaku UMKM yang belum pernah mendapatkan pembiayaan dari lembaga keuangan maupun sistem perbankan.
“Karena itu yang 23 juta UMKM ini harus mendapatkan program dari perluasan pembiayaan modal kerja. Bagi yang bankable penyalurannya akan melalui perluasan program KUR sekaligus akan mendorong inklusi keuangan. Sedangkan bagi yang tidak bankable penyalurannya bisa lewat UMi, Mekaar, maupun skema program lainnya,” tutur Presiden.
Adapun dalam skema kelima, pemerintah melalui kementerian, lembaga BUMN, dan pemerintah daerah akan bertindak sebagai penyangga dalam ekosistem UMKM, utamanya pada tahap pemulihan dan konsolidasi usaha setelah pandemi Covid-19.
“Ini penting sekali. Misalnya BUMN atau BUMD menjadi offtaker (penyerap) bagi hasil produksi para pelaku UMKM baik di bidang pertanian, perikanan, kuliner, sampai di industri rumah tangga,” ujarnya.
Kepala Negara juga kembali mengingatkan jajarannya di daerah untuk melakukan realokasi anggaran dan mengarahkannya pada program-program stimulus ekonomi yang menyentuh sektor UMKM. Dengan semua langkah dan upaya yang dilakukan tersebut Presiden Joko Widodo berharap agar para pelaku UMKM mampu bertahan dan tetap menjalankan aktivitas produksinya baik selama maupun setelah pandemi Covid-19 berakhir. (https://covid19.go.id)
Jakarta, 29 April 2020 Biro, Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden
Maka sehubungan dengan hal itu, bagi pelaku UMKM-BINA BANGUN BANGSA yang ingin mendapat bantuan dari Pemerintah, dapat mengajukan permohonannya dengan mengisi form permohonan di bawah ini :
Jakarta, BINA BANGUN BANGSA – Kemajuan teknologi digital era 5.0 saat ini membuat sistem perekonomian dan usaha atau bisnis dalam negeri sudah harus berbenah mengikuti perkembangan dunia saat ini, kalau tidak mau ketinggalan dalam persaingan global di bidang penjualan dan pemasaran produk, barang dan jasa, terutama bagi pelaku UMKM di negeri ini.
Hal itu disampaikan Ketua Umum BINA BANGUN BANGUN, Nur Ridwan dalam Rapat Kerja Terbatas Bidang Perekonomian, Koperasi dan UMKM di Kantor Pusat, Jakarta. (18/01/2020)
“Kita harus pro aktif menghadapi tantangan global dalam persaingan pasar dunia saat ini, apalagi dengan derasnya Aplikasi Teknologi luar negeri saat ini yang sudah masuk dalam pasar domestik sehingga bisa menggerus pasar UMKM dalam negeri” katanya.
Karena secara data sumber dari Kementerian Koperasi dan UKM, setidaknya terdapat lebih dari 64 juta unit UMKM yang telah berkontribusi 97% terhadap total tenaga kerja, dan memberi sumbangsih 60% terhadap PDB (Product Domestic Bruto) nasional. “Jumlah ini menunjukan peran UMKM yang sangat besar bagi perekonomian nasional”, katanya lagi.
“Akan rugi besar bagi kita kalau pasar UMKM dalam negeri diambil oleh pelaku UKM dan Industri dari luar negeri”, katanya lebih lanjut.
Maka menurutnya, BINA BANGUN BANGSA sebagai Organisasi atau Lembaga Mitra Pembangunan Nasional yang berdiri sejak tahun 2009, dengan memiliki potensi puluhan ribu anggota UMKM, saat ini sedang mengembangkan Aplikasi SuperApp untuk memfasilitasi penjualan dan pemasaran serta pengembangan daripada produk/barang dan jasa para anggotanya. Dengan menggandeng para developer aplikasi karya Anak Bangsa Indonesia yang tidak kalah kemampuannya dengan para developer luar negeri.
“SuperApp yang dibangun berbasis sistem Koperasi bagi anggota yang menawarkan banyak layanan dan benefit dari SuperApp ini. Semoga bisa berguna dan bermanfaat secara luas dalam membantu tugas negara untuk memajukan kesejahteraan masyarakat Indonesia”, harapannya.(IWN).