Jakarta, BINA BANGUN BANGSA – Sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pandemi covid-19. Wabah ini membuat supply dan demand serta rantai pasok terganggu sehingga roda perekonomian di tataran UMKM tersendat. Bahkan menurut OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) setelah September 2020, akan ada separuh UMKM yang ada yang terpaksa harus gulung tikar.
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, menjelaskan UMKM selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi nasional. Setidaknya terdapat lebih dari 64 juta unit UMKM yang berkontribusi 97 persen terhadap total tenaga kerja dan 60 persen PDB nasional. Jumlah ini menunjukan peran UMKM yang sangat besar bagi perekonomian nasional. Oleh sebab itu jika separuh UMKM gulung tikar maka dikhawatirkan akan berdampak besar bagi perekonomian nasional.
“Berdasarkan data APEC tahun 2018 jumlah UMKM mencapai 97 persen dari total keseluruhan usaha dan berkontribusi 50 persen terhadap tenaga kerja. UMKM juga berkontribusi signifikan GDP mencapai 20 persen – 50 persen,” kata Teten saat menjadi keynote speaker dalam webinar dengan tema Menyiapkan Produk – Produk Indonesia Mendunia yang diselenggarakan oleh PT Jababeka Tbk, Kamis (8/10/2020).
Teten menambahkan meski penuh dengan tantangan, sektor UMKM masih memiliki harapan dan peluang untuk meningkatkan skala bisnisnya. Peluang untuk meningkatkan ekspor masih terbuka lebar apabila pelaku UMKM mau melakukan inovasi produk dan mendesainnya dengan sentuhan teknologi.
Menurutnya, ada tiga sektor yang memiliki peluang besar bagi UMKM untuk dapat meningkatkan ekspornya di tengah pandemi seperti saat ini yaitu produk makanan dan minuman, fashion serta furniture dan kerajinan.
“Memang kontribusi ekspor UMKM hanya mencapai 14 persen sementara usaha besar yang jumlahnya hanya 0,01 persen dapat berkontribusi hingga 86 persen. Angka ini masih jauh dari kontribusi UKM di negara – negara APEC yang berkisar 35 persen,” sambungnya.
Untuk memastikan agar UMKM tetap bertahan memang butuh dukungan bersama lintas sektoral. Pekerjaan bersama ini diakuinya tidak mudah terlebih di saat permintaan dunia mengalami slow down akibat sama-sama terkena wabah Covid-19.
Sebagai contoh bentuk kegiatan atau dukungan kepada UMKM, KemenkopUKM mencetuskan beberapa program seperti Gerakan Belanja di Warung Tetangga. Selain itu dukungan program produksi alat pelindung diri oleh UMKM.
“Kita juga ada program pasar digital UMKM, melalui program ini potensi belanja yang bisa dimanfaatkan UMKM mencapai Rp35 triliun. Lalu ada juga gerakan nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI) dan kita akfif mendorong sektor UMKM go digital,” ulasnya.
Jakarta, 9 Oktober 2020
Humas dan Advokasi Hukum Kementerian Koperasi dan UKM
Jakarta, BINA BANGUN BANGSA – Kemajuan teknologi digital era 5.0 saat ini membuat sistem perekonomian dan usaha atau bisnis dalam negeri sudah harus berbenah mengikuti perkembangan dunia saat ini, kalau tidak mau ketinggalan dalam persaingan global di bidang penjualan dan pemasaran produk, barang dan jasa, terutama bagi pelaku UMKM di negeri ini.
Hal itu disampaikan Ketua Umum BINA BANGUN BANGUN, Nur Ridwan dalam Rapat Kerja Terbatas Bidang Perekonomian, Koperasi dan UMKM di Kantor Pusat, Jakarta. (18/01/2020)
“Kita harus pro aktif menghadapi tantangan global dalam persaingan pasar dunia saat ini, apalagi dengan derasnya Aplikasi Teknologi luar negeri saat ini yang sudah masuk dalam pasar domestik sehingga bisa menggerus pasar UMKM dalam negeri” katanya.
Karena secara data sumber dari Kementerian Koperasi dan UKM, setidaknya terdapat lebih dari 64 juta unit UMKM yang telah berkontribusi 97% terhadap total tenaga kerja, dan memberi sumbangsih 60% terhadap PDB (Product Domestic Bruto) nasional. “Jumlah ini menunjukan peran UMKM yang sangat besar bagi perekonomian nasional”, katanya lagi.
“Akan rugi besar bagi kita kalau pasar UMKM dalam negeri diambil oleh pelaku UKM dan Industri dari luar negeri”, katanya lebih lanjut.
Maka menurutnya, BINA BANGUN BANGSA sebagai Organisasi atau Lembaga Mitra Pembangunan Nasional yang berdiri sejak tahun 2009, dengan memiliki potensi puluhan ribu anggota UMKM, saat ini sedang mengembangkan Aplikasi SuperApp untuk memfasilitasi penjualan dan pemasaran serta pengembangan daripada produk/barang dan jasa para anggotanya. Dengan menggandeng para developer aplikasi karya Anak Bangsa Indonesia yang tidak kalah kemampuannya dengan para developer luar negeri.
“SuperApp yang dibangun berbasis sistem Koperasi bagi anggota yang menawarkan banyak layanan dan benefit dari SuperApp ini. Semoga bisa berguna dan bermanfaat secara luas dalam membantu tugas negara untuk memajukan kesejahteraan masyarakat Indonesia”, harapannya.(IWN).
Jakarta, BINA BANGUN BANGSA – Inovasi dan promosi serta penjualan produk-produk ukm Indonesia saat ini perlu diperhatikan dan ditingkatkan dalam rangka percepatan pembangunan ekonomi nasional dan menambah cadangan devisa negara.
Ketua Umum BINA BANGUN BANGSA, Nur Ridwan mendorong Kementerian Luar Negeri RI untuk inisiatif dan berperan aktif dalam memasarkan produk-produk komoditas dan UKM Indonesia ke pasar luar negeri, khususnya pasar Amerika Serikat dan Eropa.
Hal itu disampaikannya dalam Rapat Terbatas Dewan Pimpinan Nasional BINA BANGUN BANGSA bidang Perekonomian di kantornya, Jakarta.(27/08/2019).
“Saya harapkan agar produk ukm Indonesia bisa dipasarkan di luar negeri, pasar Amerika dan Eropa dibantu Kemlu melalui KBRI atau KJRInya”, katanya.
Seperti kita ketahui bahwa KBRI dan KJRI merupakan perwakilan Pemerintah Republik Indonesia di Luar Negeri, yang secara resmi mewakili dan memperjuangkan kepentingan Bangsa, Negara, dan Pemerintah Republik Indonesia secara keseluruhan di Negara Sahabat dan/atau pada Organisasi Internasional.
Lanjut menurut Ketum, yakin produk atau komoditas hasil dari Indonesia dapat menjadi produk unggulan berkualitas ekspor dengan selalu memperhatikan mutu dan kualitas serta kontinuitas produksinya.
Maka diharapkan Kemlu RI bisa menggandeng koperasi, organisasi, lsm, yayasan, komunitas, paguyuban, dan para pelaku UMKM Indonesia untuk difasilitasi dalam pemasaran dan pengembangan produk UKM Indonesia masuk pasar luar negeri.
“Sehingga produk-produk UKM Indonesia bisa naik kelas go Internasional”, harapannya.
UKM Nusantara – Ahmad Pagessa adalah satu dari sekian banyak penggiat UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) yang peduli terhadap kondisi ekonomi daerahnya. Sebagai sosok penggerak pemberdayaan masyarakat, Ahmad Pagessa sangat berharap agar masyarakat daerah, terutama tempatnya saat ini dia tinggali bersama keluarganya, Kota Palu bisa lebih maju lagi, sekelas dengan masyarakat kota besar lainnya di negeri Nusantara ini, apalagi mengingat Kota Palu sudah menjadi Kota dengan predikat Kota Industri dan Kawasan Ekonomi Khusus, pada era Walikota Palu, Rusdi Mastura dan Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola ini.
Karena menurut pria kelahiran Makassar ini, semua masyarakat daerah pastinya ingin hidup yang lebih baik lagi, hanya saja mereka masih diselimuti olah pikir yang konservatif, yang selalu saja berpendapat bahwa bersekolah hanya untuk menjadi pegawai negeri atau pegawai kantoran saja. Tanpa mau berpikir untuk menjadi petani, peternak, dan atau nelayan yang berhasil, karena dianggap bukan pekerjaan atau mata pencaharian yang eksklusif.
Pandangan awam masyarakat daerah bahwa untuk menjadi pengusaha, harus dibutuhkan ketrampilan dan modal yang besar, sehingga membuat mereka selalu takut untuk memulai usaha bisnisnya, karena takut rugi dan harus kehilangan modalnya.
Padahal lapangan pekerjaan sebagai pegawai negeri dan kantoran selalu saja terbatas, tidak bisa menampung semua kebutuhan bagi kelompok usia kerja yang telah lulus sekolah dan kuliah, sehingga apabila tidak diantisipasi, maka akan menambah jumlah pengangguran, yang malah dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan sosial dan budaya daerah tersebut.
Paradigma lama tersebut, membuat Ahmad Pagessa bertekad untuk mencoba menghilangkannya. Dengan berbekal semangat, pria yang ramah ini berbagi pengetahuan dan pengalamannya dengan memberikan penyuluhan dan motivasi kewirausahaan, sebagai bentuk pembinaan dan pemberdayaan kepada masyarakat dan mahasiswa serta kelompok generasi muda Kota Palu. Lengkap dari hal teori hingga kepada contoh prakteknya, tentang manajemen produksi, penjualan dan pemasaran dari suatu produk dan jasa UMKM, terutama di bidang ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya, khas Palu dan daerah Sulawesi Tengah, yang hingga kini masih belum optimal untuk ditumbuhkembangkan.
Dengan dibantu kawan-kawannya dalam perwakilan organisasi BINA BANGUN BANGSA Kota Palu, Pagessa giat sekali mensosialisasikan pemberdayaan masyarakat tentang UMKM ini, yang hanya berharap agar masyarakat umum mengetahui dan memahami tentang wawasan entrepreneurship, yang akan membuat mereka jadi berani dan senang menjadi pelaku UMKM, yang secara otomatis pula akan mengurangi tingkat pengangguran dan termasuk sebagai bentuk upaya nyata dalam penanggulangan kemiskinan masyarakat yang masih tergolong daerah tertinggal ini.
Banyak kelompok kerja kreatif yang telah berhasil dikembangkanya, bahkan ada yang sudah menghasilkan beragam produk karya nyata seperti bawang goreng, minyak kelapa, makanan ringan, sabun mentimun dan handycraft berbahan kayu dan rotan serta bahan baku daur ulang. Dan apalagi sudah mulai pula dipasarkan pula, walaupun masih dalam stok yang terbatas, karena terkendala masalah klasik, yakni ketersediaan perlengkapan dan peralatan mesin serta permodalannya.
Maka diharapkannya agar Pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemerintah Kota Palu, pun memberikan perhatian dan bantuannya terhadap kegiatan ini, demi terwujudnya gerakan percepatan pembangunan perekonomian masyarakat yang berbasis pemberdayaan UMKM ini, yang nantinya pun akan berdampak positif kepada PAD (Pendapatan Asli Daerah) nya, seiring dengan kemajuan ekonomi masyarakatnya.
UMKM Nusantara – Ikan Terbang, penduduk setempat menyebutnya sebagai ikan tuing-tuing, memiliki sirip yang khas yang berbentuk layar. Ikan ini memiliki nama latin parexocoetus brachypterus. Ikan yang termasuk kedalam famili exotidae ini memiliki ciri yang khas, yaitu sirip dadanya yang besar yang menyebabkan ikan jenis ini dapat meluncur terbang di udara walau secara singkat. Atau mungkin lebih tepatnya adalah melayang di atas permukaan air. Mekanisme terbang ini sebetulnya adalah mekanisme ikan tersebut untuk pembelaan dirinya dari kejaran pemangsa. Jarak terbang yang ditempuhnya biasanya tidak jauh, sekitar 50an meter, namun fakta lain menyebutkan bahwa ikan ini, dengan memanfaatkan tenaga gelombang laut, dapat terbang mencapai jarak sekitar 400 meter. Wah … luar biasa sekali ya. …..
Namun, bukan soal kehebatan ikan tuing-tuing yang akan saya sampaikan dalam tulisan ini, tetapi tentang ikan,yang kebetulan menjadi ikon salah satu tv swasta di Indonesia, juga menjadi ikon wisata kuliner di provinsi Sulawesi Barat.
Wisata kuliner ikan tuing-tuing atau ikan terbang ini bisa dijumpai jika kita melewati jalan trans Sulawesi, saat kita melalui Desa Somba, kecamatan Sendana, Kabupaten Majene (bacanya: maje’ ne’) yang termasuk kedalam Provinsi Sulawesi Barat. Di wilayah ini berjejer warung-warung penjual ikan terbang, di kiri dan kanan jalan. Warung-warung tersebut sebagian besar buka selama dua puluh empat jam. Jadi jam berapapun kita melewati daerah tersebut, kita bisa langsung mencoba menikmati hidangan ikan tuing-tuing ini.
Desa Somba di wilayah kabupaten Majene ini dapat ditempuh sekitar 135 km atau sekitar 3 jam perjalanan dari Mamuju – ibukota provinsi Sulawesi Barat dan kurang lebih 6-7 jam perjalanan dari Makassar – Ibukota provinsi Sulawesi Selatan. Sementara Majene, jika anda ingat, kabupaten ini pernah mencuat namanya saat peristiwa jatuhnya pesawat Adam Air yang hingga sekarang bangkai pesawatnya tidak dapat ditemukan.
Tanda-tanda lain, selain keberadaan warung-warung penjual ikan terbang itu, adalah kepulan asap di sepanjang jalan itu yang sudah tampak dari kejauan mengepul dari masing-masing warung penjual ikan terbang. Asap yang terbentuk adalah karena cara memasak ikan terbang yang khas, yaitu melalui pengasapan, bukan digoreng maupun dibakar. Ikan terbang akan matang akibat panas yang timbul dari proses pengasapan tersebut. Cara mengasapinyapun mudah. Sebelum diletakkan di atas rak pengasapan yang terbuat dari bambu, ikan terbang terlebih dahulu direndam di air garam. Setelah itu diletakkan di atas rak pengasapan hingga ikan berwarna kecoklatan. Ikan asap yang sudah matang ini bisa langsung dimakan, atau disimpan sambil menunggu pembeli. Jika sudah datang pembeli, ikan cukup dihangatkan di atas asap sebentar saja, dan ikan siap untuk dihidangkan. Kayu yang digunakan untuk mengasapi ikan tuing-tuing ini biasanya adalah kayu bakau atau kayu mangrove. Dan ikan tuing-tuing ini memang tidak enak jika digoreng maupun dibakar, mengingat sisiknya yang tebal. Jika melalui proses pengasapan, pada saat memakannya, sisiknya mudah dibuka dan daging yang tercium menjadi lebih harum.
Warung-warung ini, konon mulai berkembang pada tahun 2000an dan kini terdapat hampir lebih kurang 70an buah warung yang menyediakan penganan ikan terbang. Warung yang berada di kiri jalan trans Sulawesi (dari arah Makassar menuju Mamuju) berada di pinggir laut, tempat dimana ikan tuing-tuing ini didapat. Ikan terbang asap dikonsumsi dengan burasa (seperti lontong tetapi dimasak santan dan disajikan setangkup-setangkup, di Jakarta maupun pulau Jawa, biasa dikenal dengan sebutan buras) serta sambal khas Majene, yang terbuat dari cabai merah diulek bersama-sama bawang merah dan tomat, dibubuhi sedikit garam, kemudian sambal ini disiram minyak panas, dan pada saat akan dinikmati, jangan lupa untuk mengucuri dengan sedikit perasan jeruk nipis, dan wuih….. rasanya … sungguh dapat membuat lidah bergoyang terus tak mau berhenti menikmati kuliner ikan terbang yang khas dan lezat ini.
Rasa khas yang lezat itu yang saya dan dua orang teman mencoba menikmati kuliner ikan terbang di salah satu warung beberapa waktu yang lalu, pada saat melakukan perjalanan dari Makassar ke Mamuju. Sebelumnya saya memang pernah mendengar tentang ‘kewajiban’ untuk mencicipi menu khas Majene, ikan terbang asap, karena kelezatannya yang khas, jika kita dalam perjalanan menuju ke kota Mamuju.
Kesempatan untuk pergi ke Mamuju pun datang. Saya dan teman yang pergi bersama-sama akhirnya bertekad sebelum berangkat bahwa kami harus dapat mencicipi hidangan khas tersebut, untuk menghilangkan rasa penasaran kami. Pada waktu itu jam telah menunjukkan waktu sekitar pukul 3 dinihari. Kami mampir di warung yang masih buka, tandanya adalah lampunya masih menyala, disamping kepulan asapnya dari tempat pengasapan ikan terbang. Waktu yang masih dinihari tidak menyurutkan niat kami mencicipi hidangan khas Majene ini. Ditambah rasa penasaran kami yang belum pernah menikmati hidangan ikan terbang. Dan betul saja, walau rasanya perut ini agak aneh untuk ‘makan berat’ di pagi hari buta, tetapi kelezatan dan kekhasan kuliner ikan terbang ini menghilangkan rasa aneh kami. Kami benar-benar menikmatinya, kami coba semuanya: ikan terbang, sambal, burasa dan cumi-cumi. Dan kami akui bahwa kuliner ini sangat lezat, sangat yummy.
Soal harga, tidak usah khawatir, cukup bersahabat kok. Malah menurut saya cukup murah. Lihat saja informasi berikut ini, untuk sepiring ikan terbang yang berisi tujuh ekor, dihargai sepuluh ribu rupiah. Sementara setangkup burasa (dua potong burasa) dihargai dengan harga seribu rupiah saja. Oya, sebagai pelengkap, ada sajian cumi-cumi juga yang cukup dimasak dengan cara tumis saja, dan disajikan bersama ikan tuing-tuing asap. Hidangan cumi-cumi ini menambah lezatnya ikan terbang yang disajikan (harga tumis cumi-cumi ini berkisar antara 7500 – 10.000 per mangkok).
Sebagai oleh-oleh keluarga di rumah, selain membawa ikan terbang yang sudan matang – berikut sambalnya, ada pula yang sudah dikeringkan/diasinkan, sudah dikemas dalam bentuk kotak-kotak plastik dan siap untuk dibawa pulang. Harganya pun tetap bersahabat, satu kotak ikan kering cukup dihargai dengan dua puluh ribu rupiah saja per kotaknya. Cukup murah, kan?
Jadi, jika anda ingin merasakan kuliner khas Majene, Sulawesi Barat, sajian khas ikan terbang asap adalah pilihan yang tepat dan tampaknya akan lebih afdol jika kita menikmatinya di tempat asalnya, sambil menikmati suasana kabupaten Majene tentunya – sebagai bagian dari Indonesia travel.