oleh nasional | Feb 5, 2022 | Komoditas Unggulan Daerah
Jambi, BINA BANGUN BANGSA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi mendorong produk pinang menjadi komoditas unggulan ekspor. “Pemprov Jambi saat ini terus mendorong komoditas pertanian, khususnya komoditas pinang yang memiliki nilai jual ekspor yang tinggi,” kata Sekretaris Daerah Provinsi Jambi Sudirman di Jambi, Kamis (3/2/2022).
Sudirman menjelaskan, pinang merupakan tanaman monokotil yang tergolong ke dalam palem-paleman. Masyarakat di Indonesia sudah lama mengenalnya sebagai obat alternatif atau herbal, baik untuk kesehatan maupun kecantikan.
Negara-negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara lainnya seperti India, Pakistan, Banghladesh, Thailand, Myanmar, Srilanka, Vietnam, Malaysia, serta Nepal juga menggunakan pinang sebagai bahan baku obat-obatan, permen herbal, hingga makanan kecil. Dengan dijadikannya komoditas ekspor unggulan, kata dia, maka akan memiliki dampak dalam membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan perekonomian masyarakat Jambi.
Jambi merupakan salah satu provinsi penghasil pinang selain Sumatra Barat, Riau, Sumatra Utara, dan Aceh. Luas perkebunan pinang di Provinsi Jambi pada 2021 lebih kurang 28.255 hektare. Pada akhir 2020 total ekspor produk pinang Provinsi Jambi tercatat sebanyak 60 ribu ton dengan nilai Rp 1,1 triliun. Pada 2021 dari bulan Januari hingga September ekspor produk pinang meningkat menjadi 67 ribu ton dengan nilai sebesar Rp 1,7 triliun.
Dari segi produksi, penghasil pinang terbanyak dengan kualitas terbaik di Provinsi Jambi adalah Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Sehingga pinang menjadi salah satu produk unggulan ekspor provinsi itu.
“Sudah menjadi probabilitas agar pinang menjadi salah satu komoditas unggulan dari pertanian, di beberapa negara Eropa seperti Inggris, Jerman, Belanda dan Belgia menggunakan pinang untuk memenuhi kebutuhan ekspatriat negara Asia Selatan,” kata Sudirman.
Pemprov Jambi terus bersinergi dengan pemerintah kabupaten dan kota se-Jambi dalam upaya mengembangkan seluruh komoditas termasuk pinang. Mulai dari penanaman sampai produksi hingga pemasaran. “Pinang asal Indonesia sangat diminati, dimana 80 persen kebutuhan dunia di ekspor dari Indonesia dan Provinsi Jambi berkontribusi sebesar 34,53 persen dari jumlah ekspor nasional tersebut,” kata Sudirman. (Antara)
oleh nasional | Okt 11, 2021 | Komoditas Unggulan Daerah
Sulawesi Tengah, BINA BANGUN BANGSA – Siapa tak kenal dengan khasiat daun kelor. Tanaman pagar rumah tangga yang tumbuh subur di Kota Palu, Sulawesi Tengah itu kini tengah dibranding dengan nama ‘kelor merah khatulistiwa’ dan telah dilirik oleh 7 negara asing.
Branding ini sedang dikembangkan dan didukung oleh Balai Karantina Pertanian (Barantan) Palu. Amril, Kepala Barantan Palu menuturkan, pemberian nama kelor merah sebab batangnya yang merah dan hanya ada di Kota Palu yang merupakan daerah jalur khatulistiwa.
“Ini kelor merah memang salah satu potensi jual komoditas pertanian dari Sulawesi Tengah,” katanya saat ikut memanen kelor di Kelurahan Kayumalue, Senin (11/10/2021).
“Potensinya sangat besar, karena ada tujuh negara yang meninjau kemari,” imbuh dia.
Negara itu ialah Dubai, Jepang, China, Perancis, Amerika Serikat dan Nigeria. Penanaman kelor saat ini berada di wilayah Kelurahan Kayumalue, Kecamatan Tawaili, Kota Palu dengan luas lahan 200 hektar. Meski akan menjadi komoditas ekspor, Amril bilang kelor merah terlebih dahulu akan difokuskan untuk dinikmati masyarakat di wilayah setempat.
“Nanti di tempat ini kami juga dorong masyarakat agar membuat semacam agrowisata. Ada tanaman rica, tomat, dan sebagainya. Tapi brandnya di sini kelor merah khatulistiwa. Jadi yang datang ke sini bisa menikmati sajian dari kelor yang dibuat masyarakat,” kata dia.
Amril pun menyebut, ke depan akan berkomunikasi bersama direktorat jenderal prasarana untuk siap memberi dukungan peralatan kepada para petani kelor. Hal ini merupakan komitmen dari Kementerian Pertanian bahwa semua Kabupaten harus memiliki komoditas yang siap diekspor.
“Nah kita melihat di Palu ini komoditas yang bisa kita angkat ini adalah Kelor merah khatulistiwa,” jelas Amril.
Terpisah, Dahlan penginisiasi komoditas kelor merah mengatakan awalnya hanya menanam 1 hektar kelor dari 200 hektar lahan. Seiring banyaknya peminat, kelor merah kini sudah ditanami pada luas 10 hektar lahan.
Ia menjelaskan, perawatan kelor merah tidak rumit. Satu hektar kelor bisa ditanami sebanyak 10 ribu pohon. Dahlan bilang kelor di Palu dipanen setiap triwulan satu kali. 1 hektar lahan bisa menghasilkan 15-20 ton kelor setengah jadi dengan harga jual mencapai 2 juta per ton.
“Karena kelor di Sulawesi tengah berbeda dengan kelor di tempat lain, kita sudah tiga kali panen dalam setahun, yang di luar daerah itu hanya 1 kali setahun,” ujarnya.
Untuk saat ini, lanjut dia, kelor yang ditanam sudah bekerja sama dengan salah satu swadaya masyarakat dengan menyiapkan kelor setengah kering untuk selanjutnya diolah menjadi produk UMKM. “Kita diberi mesin kapasitas 130 kg. Saat ini kami sudah diberi 3 mesin,” ujarnya.
Lewat mesin itu, ia pun menyebutkan tengah memberdayakan masyarakat yang kurang mampu. Satu mesin dengan kapasitas 13 kg dipegang oleh satu pekerja dengan bayaran satu juta perbulannya.
Dahlan berharap, ke depan dapat banyak dukungan dari pemerintah untuk mengembangkan bisnis tanaman kelor sehingga bisa menjadi barang yang siap diekspor. Sebab diakuinya, mengurus kelor memakan biaya yang cukup besar.
“Saat ini saya terus sementara mendorong, mengajak masyarakat agar supaya kelor ini bisa menjadi pendapatan yang menjanjikan,” tuturnya. (kabarselebes.id)