Respon Pemkot Palu Terhadap Pelestarian Pohon Kayu Eboni

Respon Pemkot Palu Terhadap Pelestarian Pohon Kayu Eboni

Kota Palu, BINA BANGUN BANGSA – Terkait dengan wacana penanaman kembali (Restocking) pohon kayu Eboni di daerah Sulawesi Tengah yang saat ini jumlah populasi dan luas sebarannya sudah semakin berkurang dan hampir mengalami kelangkaan, akibat pemanfaatannya yang selama ini tidak berwawasan keberlanjutan, langsung mendapat tanggapan dari Sekretaris Kota Palu, Aminuddin Atjo, yang menyatakan akan segera menindaklanjuti usulan tersebut, sembari menjelaskan bahwa selama ini pun Pemerintah Kota Palu sudah memberikan perhatian terhadap keberadaan populasi hayati pohon kayu Eboni yang sempat menjadi ikon khas kota Palu Sulawesi Tengah selama ini.

“Akan kami tindak lanjuti dan langsung kami disposisikan hal tersebut kepada Bappeda dan Kepala Dinas terkait”, kata pak Amin, Sekkot Palu melalui hubungan selularnya dengan Portal siang ini. (12/1/2014)

Dan lanjutnya, Beliau pun sangat setuju terkait agar sekalian perlu diadakan studi kajian penelitian dan pengembangan serta pelestarian khusus tentang pohon kayu Eboni tersebut, untuk wilayah Kota Palu dan sekitarnya, sebagai acuan inputan kepada provinsi dan pemerintah pusat.

Mendengar respon positif dari Sekkot Palu, Arham Rumpan Saleh selaku pemerhati dan pelestari budi daya kayu Eboni Kota Palu, sangat apresiatif atas pernyataan dari Aminuddin Atjo tersebut. Arham hanya berharap agar respon tersebut benar-benar segera ditindaklanjuti dengan tetap pula melibatkan unsur pemberdayaan masyarakat yang bersama-sama dalam kelompok pembudi daya kayu Eboni kota Palu sekitarnya, yang selama ini dia sudah bina puluhan tahun dalam upayanya melestarikan dan mengembangkan potensi kayu Eboni Sulawesi Tengah.(***)

Eboni, Pohon Kayu Istimewa yang Bernilai Tinggi

Eboni, Pohon Kayu Istimewa yang Bernilai Tinggi

Palu, BINA BANGUN BANGSA – Eboni merupakan pohon kayu yang bernilai tinggi. Kayu yang tergolong kayu keras, Eboni sangat artistik dengan teras kayunya yang berwarna hitam dengan pola garis-garis kecoklatan kemerahan, halus dan mengkilap, yang juga biasa dikenal sebagai kayu hitam asal Sulawesi.

Pohon Kayu Eboni, di Halaman Kantor Pemda Sulawesi Tengah.
Pohon Kayu Eboni, di Halaman Kantor Pemda Sulawesi Tengah.

Kayu Eboni banyak digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan furniture set untuk kantor dan atau rumah yang berkelas, dan juga sebagai material untuk membuat perangkat benda seni artistik yang bernilai tinggi, selain bisa juga sebagai  bahan dasar alat musik yang berkualitas, apalagi saat ini pun bisa menjadi bahan lapisan dan bagian dari struktur bangunan mewah, dan masih banyak lagi produk barang kebutuhan dan kerajinan bernilai seni lainnya yang berbahan dasar kayu Eboni.

Menurut data penelitian bahwa pohon Kayu Eboni banyak berasal dan tersebar di daerah Sulawesi Tengah (65%), selanjutnya di Sulawesi Utara (20%) dan Sulawesi Selatan (15%), (Soerianegara, 1967). Dan sejak abad XVIII hingga saat ini kayu Eboni sudah mulai dieksploitasi untuk diperdagangkan hingga menembus pasar dunia dengan tujuan benua Eropa dan Asia, khususnya Jepang. Bahkan di Jepang, penggunaan kayu Eboni merupakan parameter yang menunjukkan tingkat status sosial seseorang (Kuhon dkk., 1987), sehingga ekspor kayu Eboni ke Jepang adalah tergolong tinggi permintaannya.

Maka eksploitasi yang telah berlangsung lama itu telah menyebabkan menurunnya jumlah populasi tegakan pohon kayu Eboni di hutan alam sebarannya, terutama di Sulawesi Tengah, yang menurut pengamatan telah mengalami banyak kerusakan dan kehilangan jumlah populasi tegakan tinggal.

Sehingga kondisi ini telah menjadi perhatian Arham Rumpan Saleh, salah satu pemerhati kehutanan dan lingkungan hidup asal kota Palu, yang sudah hampir 20 tahun memperjuangkan kelestarian hayati pohon kayu Eboni di Sulawesi Tengah.

“Keberadaan pohon Eboni di hutan alam Sulawesi Tengah saat ini sudah semakin memprihatinkan, bahkan sampai pada batas yang mengkhawatirkan, baik dari jumlah maupun luasan lokasi persebarannya”, kata Arham yang saat ini sedang giat mengembangkan pembibitan pohon kayu Eboni.

Pohon Kayu Eboni, di Halaman Rumah Jabatan Gubernuran Sulawesi Tengah "Siranindi"
Pohon Kayu Eboni, di Halaman “Siranindi” Rumah Jabatan Gubernuran Sulawesi Tengah

Lanjut dia menambahkan, perlu ada program penanaman kembali (restocking) untuk mengembalikan kondisi dan kelestarian pohon kayu Eboni di Sulawesi Tengah yang harus segera dilakukan oleh Pemerintah dan pemerhati kehutanan dan lingkungannya.

“Karena apabila keadaan ini terus dan tetap dibiarkan tanpa ada pengawasan dan pengedaliannya, maka dikhawatirkan pohon kayu Eboni hanya akan tinggal kenangan”, ujar Arham menegaskan.

Padahal menurutnya bahwa kayu Eboni merupakan potensi alam Indonesia yang termasuk istimewa karena hanya berasal dari tanah nusantara, yang semestinya menjadi perhatian Pemerintah untuk terus dikembangkan supaya menjadi potensi unggulan nasional.

“Memang kenyataanya selama ini belum ada penelitian dan pengembangan yang dilakukan untuk menggali potensi kayu Eboni yang padahal dunia sudah mengakui kualitas dan kelasnya selama ini”, ujar Arham.

Lebih – lebih lagi sejarah pernah mencatat perdagangan besar kayu Eboni yang pernah menembus hingga menghasilkan devisa negara sebesar US $ 14,620 juta yang terdiri atas US $14,546 juta dalam bentuk bahan setengah jadi dan US$ 0,075 juta dalam bentuk barang jadi (Soenarno, 1996).

Maka keadaan ini perlu segera diantisipasi agar eksploitasi kayu Eboni tidak malah menimbulkan kerusakan lingkungan dan atau terjadinya kelangkaan terhadap jumlah populasi pohon kayu yang tergolong istimewa ini, karena hanya ada di Indonesia khususnya di daerah Sulawesi Tengah.

“Dan kegiatan untuk penanaman kembali pohon kayu Eboni hendaknya dilakukan Pemerintah dengan melibatkan masyarakat sebagai program pemberdayaan masyarakat dalam rangka pelestarian lingkungan hidup dan menumbuhkembangkan kecintaan terhadap populasi pohon kayu Eboni, demi generasi masa depan”, kata Arham dengan penuh harap.(***)

Produk Kayu Eboni
Contoh Produk Meja dari Kayu Eboni

HIPMI harus menjadi Penggerak dan Pelopor Pemberdayaan UMKM Indonesia

Jakarta, BINA BANGUN BANGSA – Terkait dengan potensi UMKM Indonesia, Ketua Umum BINA BANGUN BANGSA, Nur Ridwan mengharapkan adanya kemitraan yang dibangun oleh pengusaha nasional dengan menggandeng pelaku UMKM nasional, khususnya di bidang industri kreatif, sehingga menjadi solusi terhadap masalah dalam pemberdayaan UMKM selama ini yang masih saja terkendala oleh berbagai masalah dalam akses permodalan dan pembiayaan serta pengembangannya, termasuk tekhnologi tepat guna dan penguatan pemasarannya.

Sehubungan dengan rencana Munas HIPMI yang diadakan Januari 2015 ini, dalam rangka pergantian kepemimpinan di dalam tubuh HIPMI, maka Nur Ridwan berharap agar Ketua Umum HIPMI mendatang lebih kongkrit membela kepentingan UMKM Nasional, selain tugas dan perannya dalam menciptakan kader pengusaha muda menjadi pengusaha mandiri yang berhasil dan sukses dalam kancah perekonomian dan bisnis nasional.

Karena menurut Nur Ridwan bahwa HIPMI sebagai Himpunan Pengusaha Muda Indonesia bisa menjadi pelopor dari Gerakan Percepatan Pemberdayaan UMKM Nasional, dengan sigap dan giat dalam memfasilitasi pelaku UMKM dalam negeri.

“Apalagi tantangan bagi pelaku UMKM yang semakin ketat dalam persaingan pasar dengan terbukanya perdagangan Bebas Asean di tahun ini”, harap Nur Ridwan.

Ditambahkannya agar HIPMI selain menciptakan gerakan perekonomian nasional pun harus mampu menciptakan inovasi dan kemajuan teknologi yang mampu menciptakan efisiensi dan efektifitas dalam meghasilkan produk-produk unggulan nasional yang berdaya saing global.

Serta HIPMI harus mampu juga melakukan penguatan pasar nasional, agar terciptanya kestabilan harga dalam negeri yang akan mewujudkan ketahanan nasional di segala bidang.

Adalah merupakan kewajiban bagi Pemerintah dan termasuk juga pelaku bisnis dan pengusaha besar nasional terutama HIPMI sebagai bagia dari Pegusaha Nasional, untuk membina dan mengembangkan dunia UMKM dalam negeri, demi percepatan perekonomian nasional secara keseluruhan, yang bahkan malah sudah diatur dalam UU No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM.

Diberitakan sebelumnya bahwa kandidat kuat untuk Ketua Umum HIPMI 2015-2018, adalah salah satunya Bahlil Lahadalia, yang merupakan contoh pengusaha sukses yang berangkat dari daerah (berasal dari Papua-Red), yang diharapkan menjadi inspirasi bagi pengusaha muda Indonesia untuk mampu menjadi pengusaha nasional yang dapat bersaing dalam skala ekonomi bisnis internasional.(***)

Pagessa, Membuka Cakrawala UMKM bagi Masyarakat Palu

Pagessa, Membuka Cakrawala UMKM bagi Masyarakat Palu

UKM Nusantara – Ahmad Pagessa adalah satu dari sekian banyak penggiat UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) yang peduli terhadap kondisi ekonomi daerahnya. Sebagai sosok penggerak pemberdayaan masyarakat, Ahmad Pagessa sangat berharap agar masyarakat daerah, terutama tempatnya saat ini dia tinggali bersama keluarganya, Kota Palu bisa lebih maju lagi, sekelas dengan masyarakat kota besar lainnya di negeri Nusantara ini, apalagi mengingat Kota Palu sudah menjadi Kota dengan predikat Kota Industri dan Kawasan Ekonomi Khusus, pada era Walikota Palu, Rusdi Mastura dan Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola ini.

Karena menurut pria kelahiran Makassar ini, semua masyarakat daerah pastinya ingin hidup yang lebih baik lagi, hanya saja mereka masih diselimuti olah pikir yang konservatif, yang selalu saja berpendapat bahwa bersekolah hanya untuk menjadi pegawai negeri atau pegawai kantoran saja. Tanpa mau berpikir untuk menjadi petani, peternak, dan atau nelayan yang berhasil, karena dianggap bukan pekerjaan atau mata pencaharian yang eksklusif.

Pandangan awam masyarakat daerah bahwa untuk menjadi pengusaha, harus dibutuhkan ketrampilan dan modal yang besar, sehingga membuat mereka selalu takut untuk memulai usaha bisnisnya, karena takut rugi dan harus kehilangan modalnya.

Padahal lapangan pekerjaan sebagai pegawai negeri dan kantoran selalu saja terbatas, tidak bisa menampung semua kebutuhan bagi kelompok usia kerja yang telah lulus sekolah dan kuliah, sehingga apabila tidak diantisipasi, maka akan menambah jumlah pengangguran, yang malah dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan sosial dan budaya daerah tersebut.

Paradigma lama tersebut, membuat Ahmad Pagessa bertekad untuk mencoba menghilangkannya. Dengan berbekal semangat, pria yang ramah ini berbagi pengetahuan dan pengalamannya dengan memberikan penyuluhan dan motivasi kewirausahaan, sebagai bentuk pembinaan dan pemberdayaan kepada masyarakat dan mahasiswa serta kelompok generasi muda Kota Palu. Lengkap dari hal teori hingga kepada contoh prakteknya, tentang manajemen produksi, penjualan dan pemasaran dari suatu produk dan jasa UMKM, terutama di bidang ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya, khas Palu dan daerah Sulawesi Tengah, yang hingga kini masih belum optimal untuk ditumbuhkembangkan.

Dengan dibantu kawan-kawannya dalam perwakilan organisasi BINA BANGUN BANGSA Kota Palu, Pagessa giat sekali mensosialisasikan pemberdayaan masyarakat tentang UMKM ini, yang hanya berharap agar masyarakat umum mengetahui dan memahami tentang wawasan entrepreneurship, yang akan membuat mereka jadi berani dan senang menjadi pelaku UMKM, yang secara otomatis pula akan mengurangi tingkat pengangguran dan termasuk sebagai bentuk upaya nyata dalam penanggulangan kemiskinan masyarakat yang masih tergolong daerah tertinggal ini.

Banyak kelompok kerja kreatif yang telah berhasil dikembangkanya, bahkan ada yang sudah menghasilkan beragam produk karya nyata seperti bawang goreng, minyak kelapa, makanan ringan, sabun mentimun dan handycraft berbahan kayu dan rotan serta bahan baku daur ulang. Dan apalagi sudah mulai pula dipasarkan pula, walaupun masih dalam stok yang terbatas, karena terkendala masalah klasik, yakni ketersediaan perlengkapan dan peralatan mesin serta permodalannya.

Maka diharapkannya agar Pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemerintah Kota Palu, pun memberikan perhatian dan bantuannya terhadap kegiatan ini, demi terwujudnya gerakan percepatan pembangunan perekonomian masyarakat yang berbasis pemberdayaan UMKM ini, yang nantinya pun akan berdampak positif kepada PAD (Pendapatan Asli Daerah) nya, seiring dengan kemajuan ekonomi masyarakatnya.

Kuliner : Ikan Terbang Asap, Khas Sulawesi Barat

Kuliner : Ikan Terbang Asap, Khas Sulawesi Barat

UMKM Nusantara – Ikan Terbang, penduduk setempat menyebutnya sebagai ikan tuing-tuing, memiliki sirip yang khas yang berbentuk layar. Ikan ini memiliki nama latin parexocoetus brachypterus. Ikan yang termasuk kedalam famili exotidae ini memiliki ciri yang khas,  yaitu sirip dadanya yang besar yang menyebabkan ikan jenis ini dapat meluncur terbang di udara walau secara singkat. Atau mungkin lebih tepatnya adalah melayang di atas permukaan air. Mekanisme terbang ini sebetulnya adalah mekanisme ikan tersebut untuk pembelaan dirinya dari kejaran pemangsa. Jarak terbang yang ditempuhnya biasanya tidak jauh, sekitar 50an meter, namun fakta lain menyebutkan bahwa ikan ini, dengan memanfaatkan tenaga gelombang laut, dapat terbang mencapai jarak sekitar 400 meter. Wah … luar biasa sekali ya. …..

13788529011844518482

Namun, bukan soal kehebatan ikan tuing-tuing yang akan saya sampaikan dalam tulisan ini, tetapi tentang ikan,yang kebetulan menjadi ikon salah satu tv swasta di Indonesia, juga menjadi ikon wisata kuliner di provinsi Sulawesi Barat.

13788545851560105607

Wisata kuliner ikan tuing-tuing atau ikan terbang ini bisa dijumpai jika kita melewati jalan trans Sulawesi, saat kita melalui Desa Somba, kecamatan Sendana,  Kabupaten Majene (bacanya: maje’ ne’) yang termasuk kedalam Provinsi Sulawesi Barat. Di wilayah ini berjejer warung-warung penjual ikan terbang, di kiri dan kanan jalan. Warung-warung tersebut sebagian besar buka selama dua puluh empat jam. Jadi jam berapapun kita melewati daerah tersebut, kita bisa langsung mencoba menikmati hidangan ikan tuing-tuing ini.

13788547641667397264

Desa Somba di wilayah kabupaten Majene ini dapat ditempuh sekitar 135 km atau sekitar 3 jam perjalanan dari Mamuju – ibukota provinsi Sulawesi Barat dan kurang lebih 6-7 jam perjalanan dari Makassar – Ibukota provinsi Sulawesi Selatan. Sementara Majene, jika anda ingat, kabupaten ini pernah mencuat namanya saat peristiwa jatuhnya pesawat Adam Air yang hingga sekarang bangkai pesawatnya tidak dapat ditemukan.

13788554391095184242

Tanda-tanda lain, selain keberadaan warung-warung penjual ikan terbang itu, adalah kepulan asap di sepanjang jalan itu yang sudah tampak dari kejauan mengepul dari masing-masing warung penjual ikan terbang. Asap yang terbentuk adalah karena cara memasak ikan terbang yang khas, yaitu melalui pengasapan, bukan digoreng maupun dibakar. Ikan terbang akan matang akibat panas yang timbul dari proses pengasapan tersebut. Cara mengasapinyapun mudah. Sebelum diletakkan di atas rak pengasapan yang terbuat dari bambu, ikan terbang terlebih dahulu direndam di air garam. Setelah itu diletakkan di atas rak pengasapan hingga ikan berwarna kecoklatan.  Ikan asap yang sudah matang ini bisa langsung dimakan, atau disimpan sambil menunggu pembeli. Jika sudah datang pembeli, ikan cukup dihangatkan di atas asap sebentar saja, dan ikan siap untuk dihidangkan.  Kayu yang digunakan untuk mengasapi ikan tuing-tuing ini biasanya adalah kayu bakau atau kayu mangrove. Dan ikan tuing-tuing ini memang tidak enak jika digoreng maupun dibakar, mengingat sisiknya yang tebal. Jika melalui proses pengasapan, pada saat memakannya, sisiknya mudah dibuka dan daging yang tercium menjadi lebih harum.

13788558851839829182

Warung-warung ini, konon mulai berkembang pada tahun 2000an dan kini terdapat hampir lebih kurang 70an buah warung yang menyediakan penganan ikan terbang. Warung yang berada di kiri jalan trans Sulawesi (dari arah Makassar menuju Mamuju) berada di pinggir laut, tempat dimana ikan tuing-tuing ini didapat. Ikan terbang asap dikonsumsi dengan burasa (seperti lontong tetapi dimasak santan dan disajikan setangkup-setangkup, di Jakarta maupun pulau Jawa, biasa dikenal dengan sebutan buras) serta sambal khas Majene, yang terbuat dari cabai merah diulek bersama-sama bawang merah dan tomat, dibubuhi sedikit garam, kemudian sambal ini disiram minyak panas, dan pada saat akan dinikmati, jangan lupa untuk mengucuri dengan sedikit perasan jeruk nipis, dan wuih….. rasanya … sungguh dapat membuat lidah bergoyang terus tak mau berhenti menikmati kuliner ikan terbang yang khas dan lezat ini.

1378856088470609831

Rasa khas yang lezat itu yang saya dan dua orang teman mencoba menikmati kuliner ikan terbang di salah satu warung beberapa waktu yang lalu, pada saat melakukan perjalanan dari Makassar ke Mamuju.  Sebelumnya saya memang pernah mendengar tentang ‘kewajiban’ untuk mencicipi menu khas Majene, ikan terbang asap, karena kelezatannya yang khas, jika kita dalam perjalanan menuju ke kota Mamuju.

Kesempatan untuk pergi ke Mamuju pun datang. Saya dan teman yang pergi bersama-sama akhirnya bertekad sebelum berangkat bahwa kami harus dapat mencicipi hidangan khas tersebut, untuk menghilangkan rasa penasaran kami. Pada waktu itu jam telah menunjukkan waktu sekitar pukul 3 dinihari. Kami mampir di warung yang masih buka, tandanya adalah lampunya masih menyala, disamping  kepulan asapnya dari tempat pengasapan ikan terbang. Waktu yang masih dinihari tidak menyurutkan niat kami mencicipi hidangan khas Majene ini. Ditambah rasa penasaran kami yang belum pernah menikmati hidangan ikan terbang. Dan betul saja, walau rasanya perut ini agak aneh untuk ‘makan berat’ di pagi hari buta, tetapi kelezatan dan kekhasan kuliner ikan terbang ini menghilangkan rasa aneh kami. Kami benar-benar menikmatinya, kami coba semuanya: ikan terbang, sambal, burasa dan cumi-cumi. Dan kami akui bahwa kuliner ini sangat lezat, sangat yummy.

1378856289917560794

Soal harga, tidak usah khawatir, cukup bersahabat kok. Malah menurut saya cukup murah. Lihat saja informasi berikut ini,  untuk sepiring ikan terbang yang berisi tujuh ekor, dihargai sepuluh ribu rupiah. Sementara setangkup burasa (dua potong burasa) dihargai dengan harga seribu rupiah saja. Oya, sebagai pelengkap, ada sajian cumi-cumi juga yang cukup dimasak dengan cara tumis saja, dan disajikan bersama ikan tuing-tuing asap. Hidangan cumi-cumi ini menambah lezatnya ikan terbang yang disajikan (harga tumis cumi-cumi ini berkisar antara 7500 – 10.000 per mangkok).

1378860595982983816

Sebagai oleh-oleh keluarga di rumah, selain membawa ikan terbang yang sudan matang – berikut sambalnya, ada pula yang sudah dikeringkan/diasinkan, sudah dikemas dalam bentuk kotak-kotak plastik dan siap untuk dibawa pulang. Harganya pun tetap bersahabat, satu kotak ikan kering cukup dihargai dengan dua puluh ribu rupiah saja per kotaknya. Cukup murah, kan?

1378861162891855117

Jadi, jika anda ingin merasakan kuliner khas Majene, Sulawesi Barat, sajian khas ikan terbang asap adalah pilihan yang tepat dan tampaknya akan lebih afdol jika kita menikmatinya di tempat asalnya, sambil menikmati suasana kabupaten Majene tentunya – sebagai bagian dari Indonesia travel.

Makassar,  September 2013

@kangbugi

(Foto-foto: dokumentasi pribadi)